Minggu, 22 Juli 2012

Pintu Bahasa

Bismillaahirrahmaanirrahiim…..

                Setelah cari-cari disana-sini, akhirnya bertemu juga dengan permasalahan yang kudengar dari penceramah di mesjid semalam, tentang kata “ramadhan” dengan berbaris kasrah pada niat puasa ramadhan. Permasalahan ini sebenarnya hanyalah perbedaan bahasa dalam kaidah bahasa arab dan efeknya terhadap penentuan niat secara detail. Didalam kitab Hasyiah  I’anat At-Thalibin karangan Syeikh Al-Bakry Ad-Dimyathi dijelaskan tentang kata “ramadhan” dengan baris kasrah, hal ini berkaitan dengan kedudukan “ramadhan” yang menjadi mudhaf kepada Ismu Al-Isyarah “hazihi” sehingga menghasilkan ta’yin  ataupun kepastian puasa pada ramadhan tahun ini dan bukannya puasa qodho ataupun puasa nazar. Namun sebenarnya puasa bulan ramadhan itu adalah puasa khusus, yang hanya terjadi di bulan ramadhan, sehingga tidak mungkin ada puasa lain –tidak juga dibolehkan untuk berpuasa selain puasa ramadhan – di dalam bulan ramadhan, maka menurut sebagian ulama tidak ada masalah pada niat puasa ramadhan menggunakan kata “ ramadhan” dengan baris fathah, sehingga ismu al-isyarah sebagai keterangan waktu tidaj harus menjadi mudhafun ilaih dari kata “ramadhan” Wallahu A’lam. ( Bila sobat pembaca merasa bingung dengan tulisan diatas, itu hal biasa karena permasalahan ini adalah bagian dari pembahasan kaidah bahasa arab) Kesimpulan permasalahan ini adalah, boleh menggunakan niat :  nawaitu shauma ghadin ’an adaa’i fardhi syahri ramadhana atau ramadhani hazihi as-sanati lillahi ta’ala. Wallahu A’lam..

Untuk malam ini kucukupkan sampai disini tulisan malam-malam ramadhanku… ada ibadah lain bersama ratu bidadari surgaku…. Hehehe….. Esok hari akan kutuliskan pembahasan tentang kualitas ibadah sehingga kita mencapai derajat taqwa disisi Allah. Amin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar