Bismillaahirrahmaanirrahiim…..
Setelah
cari-cari disana-sini, akhirnya bertemu juga dengan permasalahan yang kudengar
dari penceramah di mesjid semalam, tentang kata “ramadhan” dengan berbaris
kasrah pada niat puasa ramadhan. Permasalahan ini sebenarnya hanyalah perbedaan
bahasa dalam kaidah bahasa arab dan efeknya terhadap penentuan niat secara
detail. Didalam kitab Hasyiah I’anat
At-Thalibin karangan Syeikh Al-Bakry Ad-Dimyathi dijelaskan tentang kata “ramadhan”
dengan baris kasrah, hal ini berkaitan dengan kedudukan “ramadhan” yang menjadi
mudhaf kepada Ismu Al-Isyarah “hazihi” sehingga menghasilkan ta’yin ataupun kepastian puasa pada ramadhan tahun
ini dan bukannya puasa qodho ataupun puasa nazar. Namun sebenarnya puasa bulan
ramadhan itu adalah puasa khusus, yang hanya terjadi di bulan ramadhan,
sehingga tidak mungkin ada puasa lain –tidak juga dibolehkan untuk berpuasa
selain puasa ramadhan – di dalam bulan ramadhan, maka menurut sebagian ulama
tidak ada masalah pada niat puasa ramadhan menggunakan kata “ ramadhan” dengan
baris fathah, sehingga ismu al-isyarah sebagai keterangan waktu tidaj
harus menjadi mudhafun ilaih dari kata “ramadhan” Wallahu A’lam. ( Bila sobat
pembaca merasa bingung dengan tulisan diatas, itu hal biasa karena permasalahan
ini adalah bagian dari pembahasan kaidah bahasa arab) Kesimpulan permasalahan
ini adalah, boleh menggunakan niat : nawaitu shauma ghadin ’an adaa’i fardhi syahri
ramadhana atau ramadhani hazihi as-sanati lillahi ta’ala.
Wallahu A’lam..
Untuk malam ini kucukupkan sampai
disini tulisan malam-malam ramadhanku… ada ibadah lain bersama ratu bidadari
surgaku…. Hehehe….. Esok hari akan kutuliskan pembahasan tentang kualitas
ibadah sehingga kita mencapai derajat taqwa disisi Allah. Amin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar