Senin, 23 Juli 2012

Kualitas Ibadah (1)


Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Sesungguhnya manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah “wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun” padahal Allah tidak akan bertambah kemuliaan-Nya apabila seluruh manusia dan jin beribadah dan menyembah Nya ataupun akan berkurang kemuliaan dan kekuasaan Allah bila seluruh manusia dan jin ingkar dan berpaling dari menyembah Nya. Jadi pertanyaannya adalah untuk siapa sich ibadah kita tersebut? untuk Allah atau untuk kita?
Yuk kita berpikir sejenak, merenungkan pertanyaan tersebut. Adakah pertanyaan tersebut sudah terjawab di dalam lubuk hati kita? Ataukah selama ini kita lalai dan salah mengartikan ibadah dalam kehidupan kita ini?
Didalam ayat yang kita jumpai tadi sebenarnya telah mencakup jawaban dari pertanyaan tersebut, sebuah jawaban gamblang yang tidak memerlukan permisalan-permisalan rumit dalam memahaminya.
Dari awal penciptaan kita sudah mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada Allah dan menjadikan Allah satu-satunya Tuhan yang disembah. Bahkan, merupakan sebuah kehormatan bagi kita sebagai manusia karena diciptakan sebagai makhluk yang disebut secara detail untuk menjalankan kewajiban ibadah seolah sebuah pasukan khusus yang mempunyai tugas khusus pula. Sungguh melaksanakan ibadah itu karena kita membutuhkan Allah dan karena kita tidak mempunyai apapun kecuali Allah, tiada kekuatan, tiada upaya kecuali dengan izin Nya, tempat meminta dan memohon pertolongan, maka apakah ada alasan untuk mengatakan bahwa ibadah bukanlah kebutuhan manusia? Ataukah kita masih merasa yakin bahwa hidup kita ini milik kita yang dapat kita atur sesuka hati kita? Kapan kita ingin dilahirkan atau menghembuskan nafas terakhir kita?
Wahai sobat, aku yakin bahwa kini engkaupun sama yakinnya dengan keyakinanku bahwa ibadah itu dilaksanakan karena Allah dan efeknya adalah bagi diri kita sendiri. Dan ketika kita mengetahui bahwa efek ibadah itu akan berimbas kepada diri kita, maka hanya ibadah berkualitaslah yang ingin kita lakukan agar efek terbaik dari ibadah tersebut akan memperbaiki kualitas kehidupan kita.
Kualitas ibadah yang kita laksanakan merupakan hal yang sangat dicintai Allah dan kontinuitas nya adalah bagian yang tak terpisahkan. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah r.a
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ   
yang artinya bahwa Rasulullah saw apabila melakukan suatu amalan, beliau akan konsisten. Dan itulah kualitas kehidupan Rasulullah saw, konsistensi beliau dalam ibadah memancar didalam kehidupan beliau sehari-hari seolah sinar mentari pagi yang menerangi gelapnya dunia. Siapapun yang mencermati kehidupan beliau akan terpana dan terkagum, karena memang kehidupan beliau sungguh berkualitas didalam segala aktifitas beliau. Kualitas ini pula yang dicontoh dan diteladani para sahabat seperti sahabat Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali (semoga Allah meridhai mereka semua) sehingga tidaklah mengherankan kehidupan para sahabatpun tercatat didalam sejarah sebagai kehidupan yang paling berkualitas sepanjang sejarah Islam.
Beralih dari sejarah, bagaimana kita akan meningkatkan kualitas ibadah kita?
Wahai sobat, peningkatan ibadah itu dilakukan bertahap, step by step. Mulailah dengan ibadah yang paling utama, yaitu ibadah shalat. Ya.. benar sekali, ibadah shalat yang setiap hari kita kerjakan. Sesungguhnya apabila ibadah shalat kita berkualitas maka sudah pasti shalat tersebut menjadi alarm hati kita dari mengerjakan perbuatan keji dan mungkar, Firman Allah
   وَأَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ
 yang artinya dirikanlah shalat! sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan perlu kita ingat bahwa shalat adalah hal yang pertama sekali akan dihisab dan diperhitungkan pada hari kiamat. Apabila baik shalatnya, maka sungguh dia telah berhasil dan sukses, dan apabila rusak shalat nya, maka sungguh dia telah gagal dan merugi sebagaimana disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Annasa’I, Ibn Majah, Turmizi dan Ahmad :
  إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ بِصَلَاتِهِ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ    

Nah, berhubung bulan ini adalah bulan suci nan special yaitu bulan ramadhan, maka selain memperbaiki kualitas shalat kita juga berkesempatan memperbaiki kualitas hidup kita dengan ibadah puasa ramadhan.

Baiklah sobat… Besok kita akan melanjutkan kisah kita dalam kualitas ibadah 2 yang akan membicarakan tentang puasa ramadhan.

Jazakumullah, Wassalamu’alaikum

Minggu, 22 Juli 2012

Pintu Bahasa

Bismillaahirrahmaanirrahiim…..

                Setelah cari-cari disana-sini, akhirnya bertemu juga dengan permasalahan yang kudengar dari penceramah di mesjid semalam, tentang kata “ramadhan” dengan berbaris kasrah pada niat puasa ramadhan. Permasalahan ini sebenarnya hanyalah perbedaan bahasa dalam kaidah bahasa arab dan efeknya terhadap penentuan niat secara detail. Didalam kitab Hasyiah  I’anat At-Thalibin karangan Syeikh Al-Bakry Ad-Dimyathi dijelaskan tentang kata “ramadhan” dengan baris kasrah, hal ini berkaitan dengan kedudukan “ramadhan” yang menjadi mudhaf kepada Ismu Al-Isyarah “hazihi” sehingga menghasilkan ta’yin  ataupun kepastian puasa pada ramadhan tahun ini dan bukannya puasa qodho ataupun puasa nazar. Namun sebenarnya puasa bulan ramadhan itu adalah puasa khusus, yang hanya terjadi di bulan ramadhan, sehingga tidak mungkin ada puasa lain –tidak juga dibolehkan untuk berpuasa selain puasa ramadhan – di dalam bulan ramadhan, maka menurut sebagian ulama tidak ada masalah pada niat puasa ramadhan menggunakan kata “ ramadhan” dengan baris fathah, sehingga ismu al-isyarah sebagai keterangan waktu tidaj harus menjadi mudhafun ilaih dari kata “ramadhan” Wallahu A’lam. ( Bila sobat pembaca merasa bingung dengan tulisan diatas, itu hal biasa karena permasalahan ini adalah bagian dari pembahasan kaidah bahasa arab) Kesimpulan permasalahan ini adalah, boleh menggunakan niat :  nawaitu shauma ghadin ’an adaa’i fardhi syahri ramadhana atau ramadhani hazihi as-sanati lillahi ta’ala. Wallahu A’lam..

Untuk malam ini kucukupkan sampai disini tulisan malam-malam ramadhanku… ada ibadah lain bersama ratu bidadari surgaku…. Hehehe….. Esok hari akan kutuliskan pembahasan tentang kualitas ibadah sehingga kita mencapai derajat taqwa disisi Allah. Amin…

Sabtu, 21 Juli 2012

Secuil Jawaban


Bismillahirrahmanirrahim…
Akhirnya hari ini tuntas puasa pertama, Alhamdulillah… Sebenarnya berpuasa itu bukanlah yang merusak tubuh ataupun menyakiti tubuh, bahkan puasa adalah cara terbaik bagi tubuh untuk menata ulang sistem pencernaan yang biasa sudah kacau balau akibat kebiasaan buruk kita sehari-hari. Mulai dari makan berlebihan, tidak teratur pada waktu dan pola makan, hingga mengunyah junkfood sebagai menu andalan sehar-hari. Nah berpuasa adalah solusi terbaik sebagai diet tubuh terhadap kesehatan pencernaan kita –demikianlah penelitian para ahli nutrisi dan kesehatan- bukankah dalam hadits Rasulullah 1400 tahun yang lalu telah dijelaskan, “shumuu tasihhuu”  yang artinya berpuasalah agar engkau sehat. Sambil mengangguk-angguk kagum akupun terbawa terbang ke alam bawah sadar mengingat betapa hebatnya agama Islam ini, sungguh suatu ajaran yang sempurna yang diturunkan oleh pencipta manusia sehingga seluruh ajarannya memenuhi dan mencakupi segala kebutuhan manusia secara rohani dan jasmani, Subhanallah… Maha benar Engkau ya Allah dan sungguh benar engkau wahai Rasulullah…
Nah mengobati rasa penasaranku semalam, buku-buku dan referensi kulahap untuk beberapa saat, hmmm…. Santapan pemikiran yang sungguh lezat … akhirnya terjawablah beberapa pertanyaanku itu.
Adalah Rasulullah sendiri yang memulai shalat terawih itu di mesjid Nabawi, Beliau melakukan shalat pada malam ramadhan sebagai bagian dari qiyamullail untuk memaksimalkan ibadah di bulan ramadhan. Ketika Rasulullah shalat, beberapa sahabat yang melihat beliau langsung berdiri di belakang beliau menjadi makmum – walaupun mereka tidak mengetahui secara pasti ketika itu shalat apa yang dikerjakan Rasulullah- karena shalatnya makmum dapat mengikut pada niat shalatnya imam. Keesokan harinya tersebarlah berita shalatnya Rasulullah dikalangan para sahabat, sehingga malam berikutnya jamaah yang mengikuti shalat semakin banyak, keesokan harinya malah semakin banyak lagi sehingga pada malam ketiga atau keempat Rasulullah tidak keluar untuk melaksanakan shalat tersebut di mesjid. Rasulullah merasa takut apabila shalat qiyamullail pada malam bulan ramadhan akan dijadikan kewajiban, karena wahyu masih diturunkan pada masa itu. Peristiwa ini terangkum dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah r.a.
Pertanyaan yang terlintas dibenakku berikutnya adalah tentang penetapan awal bulan ramadhan sendiri, karena jamaah dari kalangan Muhammadiyah telah melaksanakan puasa sehari sebelum keputusan pemerintah dalam sidang isbat. Setelah kucari-cari jawaban dari kitab Al-Fiqh Al-Islami karangan Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaily –semoga Allah menjaga dan merahmati beliau, beliau juga adalah termasuk guru pengajianku ketika masih menuntut ilmu di Damaskus- ternyata Ulama-ulama dari kalangan Hanafi, Malik, Syafii dan Hambali tidak mengakui penetapan keputusan ahli astronomi, ahli hisab dan orang-orang yang melakukan hitungan peredaran bulan sebagai suatu hujjah ataupun keputusan mutlak dalam penetapan awal ramadhan, walaupun perhitungan tersebut banyak benarnya, akan tetapi penetapan awal ramadhan adalah urusan hukum yang memerlukan dalil dan hujjah yang jelas dan detail. Oleh karena itu sangat disayangkan bagi sebagian kalangan yang mencari-cari dalil qiyas padahal dalil yang zahir dan terperinci sudah jelas menerangkan “shuumuu li ru’yatihi wa aftiruu li ru’yatihi, fa in ghumma ‘alaikum fa akmiluu ‘iddata sya’bana tsalaatsina”  yang artinya “ berpuasalah kamu sekalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah –yaitu tidak berpuasa lagi alias idul fitri- dengan melihatnya (hilal), apabila terdapat mendung yang menghalangi dari memandang hilal maka sempurnakan perhitungan bulan sya’ban menjadi 30 hari” hadits riwayat Jama’ah ( Bukhari, Muslim, An-Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, Turmizi). Demikian keterangan yang dapat diperoleh dari kitab Al-Fiqh Al-Islami halaman 1650. Wallahu A’lam.
Pertanyaan berikutnya adalah bilangan rakaat yang menjadi perbedaan juga dikalangan umat muslim pencinta shalat terawih. Walaupun pada hakikatnya sebagian besar umat muslim di daerah kita ini cenderung suka yang singkat, padat dan kilat kalau bias, hehehehe…. Kecenderungan suka mencari mesjid yang bilangan rakaat paling sedikit dan imam shalat terawih yang paling kilat bacaannya – padahal tujuan shalat terawih itu adalah memperbanyak waktu kita untuk mengingat Allah – terlepas dari kebiasaan dan kecenderungan tersebut, marilah kita lirik sejenak fakta dari hukum itu sendiri yang berkaitan dengan bilangan rakaat shalat terawih. Secara gambling dijelaskan oleh Syeikh Wahbah Az-Zuhaily bahwa pendapat yang mu’tamad dan paling kuat adalah 20 rakaat shalat terawih, karena hal ini telah menjadi  Ijma’  para sahabat sebagaimana diriwayatkan oleh Malik dari Yazid bin Ruman. Begitu juga yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Abdul Aziz didalam kitabnya As-Syaafi dari Ibnu Abbas r.a. Khalifah Umar ibn Al-Khattab juga ketika mengumpulkan para sahabat dan tabi’in agar melaksanakan shalat terawih berjamaah yang diimami oleh Ubay bin Ka’ab memerintahkan agar pelaksanaanya dilakukan sebanyak 20 rakaat. Dengan dalil sekuat ini rasanya tidak lagi ada keraguan dalam melaksanakan shalat terawih sebanyak 20 rakaat, walaupun bagi sebagian orang hal ini kurang disukai, semoga Allah memberi kita hidayah dan kekuatan dalam melaksanakannya. Amin…
Demikian secuil jawaban atas pertanyaan yang kemarin sempat memecutku untuk kembali muraja’ah kitab yang dapat kubagikan kepada kalian duhai sobat. Malam ini tidak ada pertanyaan yang terlalu rumit untuk kugali jawabannya kecuali sebuah kutipan dari penceramah di mesjid tadi tentang kata “ramadhan” di dalam bahasa arab yang dapat berbaris kasrah atau baris bawah. Akan kucari jawabannya di beberapa kitab nahwu dan kitab I’rab sebagai bagian dari belajar dari buaian hingga liang lahat. Wallahu A’lam, wassalamu ‘alaikum

Jumat, 20 Juli 2012


 Bismillahirrahmanirrahim..

Bermula ketika aku terduduk di dalam mesjid sembari menunggu azan isya pada permulaan bulan ramadhan. Teringat akan hadits Rasullullah saw yang berbunyi khairukum anfa’ukum linnaas yang berarti bahwa seseorang dapat dianggap terbaik dihadapan Allah ketika menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sungguh, hidup itu hanya ada 2 pilihan yang baik, yaitu belajar atau mengajar, karena pilihan yang ketiga adalah sangat buruk sekali, sudah tak mampu mengajar, tak hendak pula belajar. Nauzubillah…

Maka setelah pulang shalat terawih dan makan bersama keluarga, ku mulai mengutak-atik kata demi kata di hadapan laptop kesayanganku sembari ditemani istriku tercinta…

Sungguh, hal yang terlintas dibenakku ketika di mesjid tadi adalah asal-usul shalat terawih itu sendiri, kapan shalat terawih itu pertama kali dilaksanakan?, bagaimana penetapan awal bulan ramadhan?, berapa bilangan rakaatnya? Karena bukan hal baru lagi beberapa hal ini kerap menjadi perdebatan dan perbedaan dikalangan umat muslim sendiri, terutama di Indonesia. Tidak ada keraguan dalam benakku bahwa perbedaan pendapat dikalangan ulama adalah rahmat, namun ketika melaksanakan suatu ibadah yang dilakukan secara masal, adalah suatu kebaikan yang tak terhingga jika dapat disatukan pelaksanaannya dibawah panji otoritas yang sah secara hukum. Alangkah indahnya persatuan umat Islam dalam beribadah, alangkah hebatnya ajaran Islam dalam menata kesatuan umat dalam beberapa ibadah yang dikerjakan secara berjamaah. Misalnya, pelaksanaan shalat jumat secara berjamaah oleh kaum laki-laki, pelaksanaan shalat idul fitri dan idul adha, puasa secara serempak dibulan ramadhan dan yang paling besar adalah pelaksanaan ibadah haji yang dilakukukan oleh berbagai macam dan ragam suku bangsa ditanah yang sama yaitu tanah haram, waktu yang sama bahkan pakaian yang sama tanpa ada perbedaan gelar, kedudukan dan kasta. Subhanallah… Bukankah disisi Allah orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa?? Balaa…. ( Tentu saja).

Baiklah, kita tinggalkan sejenak masalah khilafiyah ataupun perbedaan yang terjadi saat ini, hal yang ingin ku tuntaskan adalah rasa penasaran terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam benakku tadi di mesjid. Akan ku bawa beberapa kitab ke kasur dan ku baca beberapa hal tentang bulan ramadhan. Semoga dapat mengobati rasa penasaranku dan akan kuceritakan kepada kalian duhai sobat apa yang kudapatkan.

Sampai bertemu kembali esok hari, wassalamu’alaikum wr.wb...