Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Sesungguhnya
manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah sebagaimana firman Allah “wa
maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun” padahal Allah tidak akan
bertambah kemuliaan-Nya apabila seluruh manusia dan jin beribadah dan menyembah
Nya ataupun akan berkurang kemuliaan dan kekuasaan Allah bila seluruh manusia
dan jin ingkar dan berpaling dari menyembah Nya. Jadi pertanyaannya adalah
untuk siapa sich ibadah kita tersebut? untuk Allah atau untuk kita?
Yuk
kita berpikir sejenak, merenungkan pertanyaan tersebut. Adakah pertanyaan
tersebut sudah terjawab di dalam lubuk hati kita? Ataukah selama ini kita lalai
dan salah mengartikan ibadah dalam kehidupan kita ini?
Didalam
ayat yang kita jumpai tadi sebenarnya telah mencakup jawaban dari pertanyaan
tersebut, sebuah jawaban gamblang yang tidak memerlukan permisalan-permisalan
rumit dalam memahaminya.
Dari
awal penciptaan kita sudah mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada Allah dan
menjadikan Allah satu-satunya Tuhan yang disembah. Bahkan, merupakan sebuah
kehormatan bagi kita sebagai manusia karena diciptakan sebagai makhluk yang
disebut secara detail untuk menjalankan kewajiban ibadah seolah sebuah pasukan
khusus yang mempunyai tugas khusus pula. Sungguh melaksanakan ibadah itu karena
kita membutuhkan Allah dan karena kita tidak mempunyai apapun kecuali Allah, tiada
kekuatan, tiada upaya kecuali dengan izin Nya, tempat meminta dan memohon
pertolongan, maka apakah ada alasan untuk mengatakan bahwa ibadah bukanlah
kebutuhan manusia? Ataukah kita masih merasa yakin bahwa hidup kita ini milik
kita yang dapat kita atur sesuka hati kita? Kapan kita ingin dilahirkan atau
menghembuskan nafas terakhir kita?
Wahai
sobat, aku yakin bahwa kini engkaupun sama yakinnya dengan keyakinanku bahwa
ibadah itu dilaksanakan karena Allah dan efeknya adalah bagi diri kita sendiri.
Dan ketika kita mengetahui bahwa efek ibadah itu akan berimbas kepada diri
kita, maka hanya ibadah berkualitaslah yang ingin kita lakukan agar efek
terbaik dari ibadah tersebut akan memperbaiki kualitas kehidupan kita.
Kualitas
ibadah yang kita laksanakan merupakan hal yang sangat dicintai Allah dan
kontinuitas nya adalah bagian yang tak terpisahkan. Didalam hadits yang
diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah r.a
“ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ “
yang artinya bahwa Rasulullah
saw apabila melakukan suatu amalan, beliau akan konsisten. Dan itulah kualitas
kehidupan Rasulullah saw, konsistensi beliau dalam ibadah memancar didalam
kehidupan beliau sehari-hari seolah sinar mentari pagi yang menerangi gelapnya
dunia. Siapapun yang mencermati kehidupan beliau akan terpana dan terkagum,
karena memang kehidupan beliau sungguh berkualitas didalam segala aktifitas
beliau. Kualitas ini pula yang dicontoh dan diteladani para sahabat seperti
sahabat Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali (semoga Allah meridhai
mereka semua) sehingga tidaklah mengherankan kehidupan para sahabatpun tercatat
didalam sejarah sebagai kehidupan yang paling berkualitas sepanjang sejarah
Islam.
Beralih
dari sejarah, bagaimana kita akan meningkatkan kualitas ibadah kita?
Wahai sobat, peningkatan ibadah
itu dilakukan bertahap, step by step. Mulailah dengan ibadah yang paling utama,
yaitu ibadah shalat. Ya.. benar sekali, ibadah shalat yang setiap hari kita
kerjakan. Sesungguhnya apabila ibadah shalat kita berkualitas maka sudah pasti
shalat tersebut menjadi alarm hati kita dari mengerjakan perbuatan keji dan
mungkar, Firman Allah
“ وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ “
yang artinya dirikanlah shalat! sesungguhnya
shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan perlu kita ingat bahwa
shalat adalah hal yang pertama sekali akan dihisab dan diperhitungkan pada hari
kiamat. Apabila baik shalatnya, maka sungguh dia telah berhasil dan sukses, dan
apabila rusak shalat nya, maka sungguh dia telah gagal dan merugi sebagaimana
disebutkan didalam hadits yang diriwayatkan oleh Annasa’I, Ibn Majah, Turmizi
dan Ahmad :
“ إِنَّ
أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ بِصَلَاتِهِ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ
وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ “
Nah, berhubung bulan ini
adalah bulan suci nan special yaitu bulan ramadhan, maka selain memperbaiki
kualitas shalat kita juga berkesempatan memperbaiki kualitas hidup kita dengan
ibadah puasa ramadhan.
Baiklah sobat… Besok kita
akan melanjutkan kisah kita dalam kualitas ibadah 2 yang akan membicarakan
tentang puasa ramadhan.
Jazakumullah, Wassalamu’alaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar